• Tanaman Sumber Nectar

    Ayo Tanam Pakan Lebah, kita selamatkan lebah dari kepunahan LebahMyID

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Hari Lebah Sedunia 2020 : Menyelamatkan Masa Depan Melalui Konservasi Lebah



Oleh : Avry Pribadi (Entomology The University of Georgia, US dan Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan) 

Tidak banyak orang bahkan para peternak lebah madu dan penjual produk perlebahan sekalipun yang mengingat bahwa tanggal 20 Mei merupakan hari lebah madu sedunia.

Padahal telah banyak manfaat baik itu ekonomi dan kesehatan yang telah diberikan oleh mahluk yang disebut dalam Al Quran oleh Allah SWT.

Meskipun demikian, mayoritas masyarakat di Indonesia lebih mengenal lebah madu hanya sebagai serangga penghasil madu saja,

padahal ada manfaat lain yang lebih dari sekedar penghasil madu yaitu sebagai serangga pollinator atau penyerbuk.

Peran sebagai serangga penyerbuk ini sebenarnya jauh lebih penting dari sekedar menghasilkan madu. Di Indonesia yang memiliki keragaman hayati terbesar ketiga di duniapun, masyarakatnya masih belum merasakan pentingnya keberadaan lebah ini sebagai sesuatu yang penting.

Hal ini justru berkebalikan dengan negara-negara maju seperti di AS dan Eropa yang sudah lebih menghargai keberadaan serangga yang satu ini. 

Bagi orang awam mungkin kesulitan dalam membedakan mana serangga yang termasuk lebah madu atau serangga biasa dan bahkan sering kali terjadi salah identifikasi dengan jenis tawon karena sama-sama hidup berkoloni.

Salah satu karakter yang memudahkan untuk mengidentifikasinya adalah dengan mengenali bagian kaki belakang serangga yang melebar dan berfungsi sebagai “keranjang tepung sari/pollen ataupun propolis” yang juga merupakan sumber protein bagi koloninya.

Sedangkan propolis merupakan materi antioksidan yang berfungsi sebagai antibakteri, antijamur, dan antivirus. Bahkan produk propolis ini dicoba untuk dikembangkan oleh para peneliti di UI sebagai salah satu alternatif obat dalam menanggulangi serangan Covid-19 .  

Indonesia memiliki keragaman serangga lebah madu yang relatif jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara seperti AS dan Eropa.

Jika di negara-negara tersebut hanya bergantung pada jenis lebah Apis mellifera sebagai serangga pollinator dan produksi madu, di Indonesia memiliki tidak kurang dari tujuh jenis lebah madu.

Tingginya kekayaan serangga lebah madu ini diibaratkan seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, kita layak berbangga dengan apa yang kita punya.

Akan tetapi di sisi lain terkadang kita menganggap remeh keberadaan lebah-lebah tersebut karena kebanyakan dari kita beranggapan bahwa jika satu jenis lebah punah maka masih ada jenis-jenis yang lain sehingga terkadang kita abai akan hal ini. 

LIPI mencatat sedikitnya ada tujuh jenis lebah madu dari kelompok bersengat yang tercatat pernah ditemukan di Indonesia seperti Apis florea, Apis adreniformis, Apis dorsata, Apis cerana, Apis koschevnikovi, Apis nigrocincta, dan Apis mellifera.

Diantara tujuh jenis tersebut, hanya tiga yang telah mampu dimanfaatkan masyarakat yaitu A. dorsata atau dikenal dengan nama lebah sialang oleh masyarakat Riau,

A. cerana atau lebah timur (eastern honey bees) atau yang lebih dikenal sebagai lebah lokal, dan A. mellifera atau lebah barat (western honey bees) atau yang dikenal sebagai lebah unggul.

Selain jenis lebah bersengat, Indonesia juga memiliki lebah tidak bersengat (stingless bees). Bahkan menurut Kahono, pusat keragaman lebah tidak bersengat di benua Asia adalah berada Indonesia dengan jumlah tidak kurang dari 43 species.

Beberapa diantaranya yang telah banyak dibudidayakan di Riau sekitar satu decade ini, seperti jenis Heterotrigona itama, Geniotrigona thoracica, dan Trigona apicalis.

Hal ini sudah dapat menggambarkan keragaman dan kekayaan serangga lebah madu di Indonesia.

Untuk produksi madu sendiri, menurut data yang diperoleh dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, produksi madu di Indonesia sekitar 75-80% masih ditopang oleh lebah hutan sedangkan sisanya adalah disumbang oleh jenis lebah ternak baik jenis A. mellifera, A. cerana, dan kelompok lebah tidak bersengat. 

Banyak studi menyebutkan bahwa peranan lebah madu sebagai serangga pollinator atau penyerbuk memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibanding hanya sebagai serangga penghasil madu.

Tidak kurang dari 75% tanaman produk pertanian di seluruh dunia membutuhkan jasa lebah untuk dapat diserbuki.

Sebagai contoh, manfaat ekonomi yang dihasilkan oleh lebah sebagai serangga penyerbuk tanaman timun, alfafa, apel, kacang almond, dan lain lainnya di Amerika Serikat mencapai angka lebih dari 15 milyar US dollar dan di saat yang sama,

produk madu yang dihasilkan hanya mencapai 150 juta US dollar atau dapat dikatakan bahwa peranan sebagai serangga penyerbuk bernilai lebih dari 100 kali dari hanya sebagai serangga penghasil madu.

Sebagai informasii bahwa mayoritas dari produk-produk pertanian di Amerika Serikat harus menggantungkan proses penyerbukannya dengan memanfaatkan lebah (A. mellifera),

sehingga para petani harus “menyewa” lebah-lebah tersebut kepada para peternak lebah atau dengan kata lain, kehidupan para petani sangatlah bergantung pada lebah agar tanaman mereka berbuah.

Ditambah lagi dengan masalah iklim yang memaksa mereka hanya dapat melakukan aktivitas bertani hanya di musim panas,

sehingga mereka harus memaksimalkan segala usaha pertanian dalam jangka waktu yang singkat dan tidak boleh gagal hanya gara-gara ketidaktersediannya lebah untuk menyerbuki tanaman mereka.

Karena begitu pentingnya lebah bagi kehidupan mereka, negara bagian Georgia (salah satu negara bagian di Amerika Serikat) bahkan telah menetapkan lebah sebagai ikon atau simbol negara bagiannya. 

Hal yang berbeda dijumpai di Indonesia, masyarakat dan para petani pada umumnya belum begitu menyadari tentang pentingnya keberadaan lebah.

Kebanyakan masih beranggapan bahwa lebah tidak lebih sebagai serangga penghasil madu dan bukan sebagai serangga penyerbuk. Hal ini terlihat dari minimnya kepedulian masyarakat dalam mengkonservasi kehidupan lebah.

Sebagai contoh adalah begitu masivenya penggunaan insektisida, perubahan landscape ekosistem, sampai pada kebakaran hutan.

Salah satu alasan kenapa sebagian besar masyarakat belum menyadari pentingnya lebah sebagai serangga penyerbuk adalah mereka belum merasakan dampak atau pengaruh langsung keberadaan lebah bagi tanaman mereka.

Terlebih lagi di Indonesia tidak mengenal sistem sewa koloni lebah seperti di Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan masih banyak serangga penyerbuk lain selain lebah yang mampu menyerbuki tanaman mereka, atau dengan kata lain mereka beranggapan meskipun lebah punah masih ada jenis serangga penyerbuk lainnya seperti lalat, kumbang, kupu-kupu, dan lain-lain atau bahkan tidak ada lebahpun tanaman mereka masih akan berbuah.

Sehingga banyak diantara mereka yang tidak peduli dengan penggunaan insektisida yang terkadang berlebihan.

Meskipun pada saat sekarang masyarakat belum merasakan kehadiran lebah sebagai serangga penyerbuk, namun apabila hal ini dibiarkan berlarut-larut maka dampaknya akan sangat berbahaya bagi ketahanan pangan di masa depan. 

Ketidakpedulian masyarakat terhadap kelestarian lebah di Indonesia dapat dikatakan masih sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya regulasi yang secara tegas mengatur tentang habitat pohon sialang dan hutan kepungannya kecuali hanya berupa hukum lokal atau adat.

Seperti kita ketahui bahwa Riau mengalami penurunan populasi lebah hutan dari tahun ke tahun. Penurunan tersebut disebabkan oleh banyak faktor,

diantaranya adalah berkurangnya pohon sialang dan vegetasi pakannya sebagai akibat dari konversi lahan, kebakaran hutan, sampai pada tehnik pemanenan yang tidak lestari.

Beruntung sebagian petani lebah hutan di Riau sekarang telah menerapkan panen secara lestari atau yang dikenal sebagai panen sunat.

Akan tetapi, hal tersebut tidak mampu membendung laju penurunan populasi lebah hutan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) di tahun 2005 s.d 2006 menunjukkan bahwa Riau masih memiliki tidak kurang dari 2011 pohon sialang dengan rata-rata sekitar 23 sarang lebah hutan per pohonnya.

Sementara pada studi lain yang dilakukan oleh Budi Tjahjono dkk pada tahun 2017 s.d 2018 menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan populasi pohon sialang sejumlah 40% dan 60% untuk jumlah koloni lebah hutannya.

Sebuah studi lain yang dilakukan oleh BP2TSTH di kabupaten Kampar juga menunjukkan dalam rentang tahun 2000 s.d 2015 sedikitnya terdapat 12 jenis pohon sialang yang sudah tidak lagi ditemukan sebagai akibat dari kegiatan alih fungsi lahan.

Hal inipun akan berdampak pada penurunan populasi lebah hutan yang ada dan berdampak langsung pada penurunan jumlah produksi madu tidak kurang dari 80 ton dibandingkan awal tahun 2000. 

Permasalahan selanjutnya adalah kebakaran hutan yang seakan menjadi langganan setiap tahunnya bagi propinsi Riau. Sudah menjadi rahasia umum bahwa lebah atau serangga pada umumnya merupakan hewan yang sangat sensitive terhadap perubahan lingkungan terutama asap.

Kejadian kebakaran hutan terakhir yang terjadi pada tahun 2019 telah menyebabkan hampir seluruh lebah hutan bermigrasi ke propinsi tetangga yang relatif lebih aman seperti Sumatera Barat.

Hal ini menyebabkan sentra madu di hampir seluruh kabupaten di Riau seperti Siak, Pelalawan, dan Kampar tidak menghasilkan madu.

Bahkan di kabupaten Siak lebah hutan butuh waktu hampir empat bulan sejak musim kebakaran lahan dan hutan berakhir untuk bermigrasi kembali ke Siak dan mulai menghasilkan madu lagi.

Ini merupakan suatu kerugian yang sangat besar dan mungkin para petani madu hutan baru menyadari bagaimana pentingnya lebah bagi mereka. 

Permasalahan lainnya adalah hilangnya vegetasi pakan lebah hutan secara besar-besaran sebagai akibat dari perubahan kebijakan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang mengganti jenis Acacia mangium sebagai tanaman bahan bakunya.

Perlu diketahui bahwa jenis tanaman ini menghasilkan pakan yang begitu banyak dan tidak mengenal musim bagi lebah.

Bahkan madu hutan di Riau pun sampai dikenal karena berasal dari tanaman A. mangium atau madu akasia.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, perusahaan HTI mulai mengganti tanaman A. mangium tersebut dengan jenis Eucalyptus yang hanya menghasilkan pakan ketika memasuki masa tebang (4 s.d 5 tahun),

sehingga hal ini sangat berpengaruh terhadap produksi madu dan sudah dirasakan oleh para petani madu terutama di daerah dengan tipe tanah mineral seperti Kabupaten Kampar,

sedangkan di daerah dengan tipe lahan gambut, produksi madunya tidak terlalu berpengaruh karena perusahaan HTI masih mempertahankan jenis Acacia crassicarpa. 

Jenis lebah lainnya seperti lebah ternak jenis A. mellifera atau yang dikenal lebah Eropa pun tidak jauh dari beberapa permasalahan.

Jenis lebah ini begitu massive diternakkan di pulau Jawa  dan mulai berekspansi ke luar pulau seperti di Jambi. Lebah ini memiliki produktivitas yang jauh lebih baik dibanding lebah lokal jenis A. cerana.

Bagi peternak yang memiliki modal banyak pasti akan cenderung memilih jenis lebah ini. Akan tetapi, jenis lebah ini sangat sensitive terhadap perubahan lingkungan dibanding oleh jenis lebah hutan.

Penggunaan insektisida yang berlebihan dapat mempengaruhi aktivitas lebah seperti tingkat keakuratan dalam melakukan tarian lebah yang mana sangat penting dalam aktivitas mengumpulkan makanan dan bahkan sampai menyebabkan kematian pada dosis tertentu.  

Bagi para peternak lebah di dunia pasti mengenal apa yang disebut Colony Collapse Disorder (CCD) yang pertama kali dilaporkan pada tahun 2006.

Gejala yang muncul apabila suatu koloni lebah terserang penyakit ini adalah hilangnya seluruh lebah pekerja yang berusia dewasa di dalam satu koloni dan hanya meninggalkan ratu dengan beberapa lebah pekerja yang masih muda dalam waktu yang bersamaan.

Bahkan sampai sekarang penyakit ini masih menjadi momok menyeramkan bagi para peternak lebah karena tidak diketahui penyebab dan cara mengatasinya.

Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa CCD disebabkan oleh kombinasi beberapa factor seperti parasit, insektisida, dan kondisi nutrisi yang buruk yang kemudian dapat menurunkan imunitas lebah sehingga mereka akan dengan mudah terserang infeksi. 

Satu lagi permasalahan yang menyerang lebah unggul ini adalah keberadaan tungau. Hampir seluruh populasi lebah unggul di dunia kecuali Australia memiliki masalah dengan jenis parasit ini.

Tungau lebah (Varroa destructor) merupakan tungau yang aslinya berasal dari indonesia yang berinang pada lebah lokal jenis A. cerana dan sekarang sudah menyebar ke hampir seluruh populasi lebah di dunia.

Di pulau Jawa, para peternak lebah ini telah banyak mengalami permasalahan dengan tungau ini (karena memang tungau ini aslinya berasal dari Indonesia, khususnya pulau Jawa).

Pengobatan dengan menggunakan bahan kimia adalah hal yang lazim digunakan karena cenderung lebih cepat dan efektif dalam mengendalikan tungau ini meskipun memiliki dampak negatif. 

Jenis lebah lokal yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat umum adalah jenis A. cerana (lebah asia) atau masyarakat Kampar menyebutnya dengan nama lebah sayak.

Lebah ini memiliki karakteristik tubuh hampir menyerupai lebah eropa namun lebih kecil, produktivitas madunya yang rendah, dan agresif namun lebih tahan terhadap serangan tungau.

Telah banyak studi yang menyebutkan bahwa populasi lebah ini mengalami penurunan yang signifikan salah satunya oleh Institute for Bee Research Hohen Neuendorf & Humboldt University of Berlin.

Dalam laporannya dinyatakan bahwa populasi lebah A. cerana di Indonesia dan Malaysia mengalami penurunan yang drastis dibandingkan Thailand yang justru mengalami peningkatan populasinya.

Permasalahan utamanya adalah perubahan landscape dan hilangnya habitat dan persaingan dengan jenis lebah lain terutama lebah A. mellifera terutama di Pulau Jawa. 

Sebuah survey yang dilakukan oleh Departemen Pertanian AS menunjukkan bahwa jumlah populasi lebah ini mengalami penurunan sekitar 50% lebih dalam satu abad yang disebabkan oleh banyak faktor.

Hal ini apabila dibiarkan tanpa adanya penanganan yang solutif maka akan sangat berdampak pada kehidupan manusia yang mana beberapa contoh telah disebutkan di atas.

Solusi yang bersifat aplikatif, menyeluruh, dan mudah dilaksanakan bagi masyarakat dengan dukungan regulasi yang jelas antara reward and punishment merupakan jalan keluar yang perlahan dapat membendung laju penurunan populasi lebah.

Akan tetapi, sebenarnya kunci dalam menyelamatkan lebah sebenarnya adalah kepedulian.

Berawal dari kepedulian inilah yang akan menyelamatkan populasi lebah, kepedulian jika tidak ada lebah maka tidak ada produk pertanian yang dapat dihasilkan, dan akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup manusia.

Beberapa aktivitas kecil yang dapat kita mulai lakukan dalam mengkonservasi lebah adalah (1) tidak menggunakan insektisida secara berlebihan, (2) melakukan penanaman tanaman pakan lebah,

(3) membuat rumah-rumah lebah sederhana, dan (4) tidak melakukan perusakan terhadap sarang-sarang lebah (jika memang sudah dianggap mengganggu dapat menggunakan jasa pemadam kebakaran untuk memindahkannya).

Akan tetapi, beberapa hal kecil tersebutpun terkadang masih banyak masyarakat awam yang acuh dan cenderung untuk mengabaikannya dengan berbagai alasan misalnya butuh modal dan tidak adanya waktu untuk melakukan hal-hal tersebut.

Sehingga, penulis mengusulkan hal yang termudah adalah tidak menggunakan insektisida secara berlebihan.

Sedangkan pada aspek yang lebih luas lagi adalah dengan membuat regulasi yang tegas terkait konservasi lebah dan habitatnya, misalnya dengan pembuatan peraturan yang memiliki dampak lebih luas seperti pelarangan penebangan pohon sialang,

konversi lahan atau merubah landscape secara massive, sampai pada pembuatan lokasi-lokasi tempat konservasi lebah.

Sebuah studi yang penulis lakukan dengan membuat pemodelan menunjukkan bahwa populasi lebah hutan akan meningkat secara signifikan apabila berada pada hutan kepungan yang luasnya lebih dari 60.000 ha dan akan menurun drastis apabila berada di antara tanaman karet dan Acacia yang masing-masing lebih dari 5000 ha dan 6000 ha. 

Satu hal yang juga menjadi penting adalah melakukan edukasi kepada masyarakat tentang mengapa kita harus mengkonservasi keberadaan lebah di tengah-tengah kita.

Kegiatan pertemuan-pertemuan dan workshop tentang membangun kepedualian masyarakat tentang lebah mungkin kurang begitu diminati oleh masyarakat karena hanya bersifat teori dan akan selesai bersamaan dengan kegiatan pertemuan tersebut atau dengan kata lain tidak ada keberlanjutannya.

Kegiatan yang efektif tidak sekedar hanya pada pertemuan tertutup tapi juga meliputi kegiatan fisik atau lapangan yang benar-benar dapat dipraktekan bersama.

Sehingga kepedulian masyarakat akan terbangun setelah melihat apa yang sudah dikerjakan dan hasil yang diperoleh.

Salah satu contoh kecil yang pernah kami lakukan adalah membuat rumah-rumah lebah sederhana dari bahan bambu dan batang kelapa yang kemudian ditempati oleh lebah dalam waktu tertentu yang kemudian lebah-lebah tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. 

Salah satu metode lain dalam membangun kepedulian adalah dengan membuat sarana wisata edukasi. Konsepnya adalah membuat semacam taman yang berisi berbagai jenis bunga-bunga yang disukai lebah yang diatur sedemikian rupa sehingga menambah nilai seni dan daya tariknya.

Melalui sarana ini diyakini bahwa masyarakat awam dapat mempelajari dan berinteraksi secara langsung dengan lebah seperti aktivitas memanen madu langsung dari stup lebah.

Perlu juga dibuat semacam diorama tentang sejarah hubungan manusia dengan lebah dan juga menceritakan apa yang terjadi jika lebah tidak ada di dunia.  Konsep terakhir yang menurut penulis lebih efektif adalah dengan melakukan edukasi sejak dini kepada anak-anak.

Edukasi tentang apa itu lebah dan bagaimana perannya bagi kehidupan mereka akan sangat membekas pada ingatan mereka sehingga akan terbawa di masa mereka dewasa. Selain itu, dirasa juga perlu memasukkan materi konservasi lebah pada kurikulum sekolah.

Penulis menyakini bahwa beberapa kegiatan tersebut telah ada pihak-pihak yang berkecimpung di bidang tersebut dan bahkan sudah menjadi sesuatu yang berbau komersialisasi.

Akan tetapi, tidak ada salahnya institusi pemerintah juga harus mengambil peran dalam bidang edukasi ini terutama yang berwenang dalam bidang ilmu dan pengetahuan.

Hal ini bukan tanpa alasan, karena institusi pemerintah dalam bidang ini merupakan suatu organisasi yang jauh dari kepentingan komersialisasi sehingga terbebas dari banyak kepentingan yang terkadang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu dengan memberikan informasi yang kurang tepat. 

Harapan dan mimpi penulis dalam konservasi lebah sebenarnya cukup besar yaitu masyarakat benar-benar menjadi peduli dengan keberadaan lebah seperti pengalaman yang penulis dapat sewaktu sekolah di AS.

Sebagian masyarakat AS yang penulis temui mengatakan bahwa mereka memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lebah.

Akan tetapi, kita sebagai salah satu bangsa dengan keragaman lebah terbanyak diharapkan telah mulai menyadari bahwa apabila tidak ada perubahan yang serius dengan pemikiran kita selama ini tentang kepedulian terhadap lebah,

maka kita akan menghadapi masalah pangan di masa depan dan bukan hanya sekedar pasokan madu yang berkurang. (*)

Share:

Finding Queens

Share:

How Do Honeybees Get Their Jobs? | National Geographic

Share:

MADU SEBAGAI ANTIBIOTIK INI ADALAH HAL-HAL KECIL YANG DIPERHITUNGKAN, TAMPAKNYA!




Oleh: Tianna Kolody

Madu diterima secara luas sebagai sumber antioksidan alami, dengan aplikasi untuk pengawetan makanan dan kesehatan manusia.

Secara umum, antioksidan adalah zat yang mencegah atau menunda reduksi (perolehan elektron) dari spesies oksigen reaktif (ROS), sehingga melindungi lipid, protein, dan asam nukleat dalam jaringan dari oksidasi (kehilangan elektron) (Al-Mamary et al . 2002). Sementara ROS dapat menyebabkan kerusakan signifikan pada molekul besar, penting untuk mengenali bahwa radikal bebas ini adalah produk dari reaksi seluler esensial. Di sinilah antioksidan memiliki peran penting: mereka mencari ROS yang diproduksi berlebihan untuk menjaga keseimbangan antara oksidan dan status antioksidan, sehingga mencegah stres oksidatif pada sel dan organ (Poljsak et al. 2013).   Produk lebah - nektar / madu, serbuk sari, dan propolis - mengandung sejumlah besar antioksidan, tetapi madu adalah satu-satunya produk lebah yang banyak dikonsumsi oleh manusia (Blasa et al. 2006). Artikel ini menyelidiki dua pertanyaan, yaitu, "Apakah sifat antioksidan madu disebabkan oleh mekanisme fisik atau kimia?" Dan "Faktor-faktor apa yang memengaruhi kapasitas antioksidan mekanisme ini dalam berbagai jenis madu?"
Madu dapat digambarkan sebagai solusi karbohidrat kompleks; Namun, itu juga mengandung banyak konstituen kecil. Konstituen-konstituen ini termasuk, tetapi tidak terbatas pada, asam amino, enzim, vitamin, dan polifenol (Saxena et al. 2010). Mekanisme utama yang bertanggung jawab untuk aktivitas antioksidan madu adalah kualitas flavonoid dan asam fenolat, keduanya polifenol (Pyrzynska & Biesaga 2009). Lebih khusus, kapasitas antioksidan madu dapat dikaitkan dengan sifat reduksi oksidasi dari phytochemical ini. Bertoncelj et al. (2007) melaporkan korelasi positif yang sangat tinggi (r = 0,966) antara aktivitas antioksidan total dan kandungan fenolik dari tujuh jenis madu dari Slovenia. Temuan mereka, bahwa konten fenolik memainkan peran penting dalam aktivitas antioksidan, juga didukung oleh Saxena et al. (2010), yang memperoleh hasil yang serupa dalam studi terbaru mereka tentang madu India.
Sementara sifat antioksidan madu telah banyak dikaitkan dengan polifenol, asam amino juga telah diakui sebagai antioksidan. Meda et al. (2005) menemukan bahwa aktivitas pemulungan radikal (ukuran kandungan antioksidan) lebih baik berkorelasi dengan konten prolin (asam amino) (r = 0,75) dibandingkan dengan konten fenolik (r = 0,5). Jelas, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami aktivitas radikal pemulung kecil konstituen (Meda et al. 2005).
Selain komponen kimia, mekanisme fisik madu juga menarik bagi para ilmuwan yang mempelajari kapasitas antioksidan dari berbagai sampel. Dalam studi mereka tentang kapasitas antioksidan madu dan karakteristik terkait, Frankel et al. (1998) menemukan korelasi yang tinggi (r = 0,782) antara kandungan antioksidan dan warna madu. Selanjutnya, Frankel et al. (1998) menemukan bahwa lebih dari 60% varians dalam kapasitas antioksidan untuk sampel madu mereka dapat dikaitkan dengan warna madu. Dalam penelitian yang lebih baru, konsentrasi polifenol madu telah dibandingkan dengan warnanya. Blasa et al. (2006) menyimpulkan bahwa kekuatan antioksidan tertinggi dan kadar polifenol tertinggi ditemukan dalam madu Italia yang gelap, mengkristal, dan buram. Demikian pula, Bertoncelj et al. (2007) menganalisis warna madu dan kandungan fenolik madu Slovenia. Mereka menemukan korelasi yang sangat signifikan (r = -0.943) antara ringan dan konten fenolik, dengan kadar konten fenolik tertinggi pada madu berwarna gelap (Bertoncelj et al. 2007). Bertoncelj et al. (2007) menjelaskan bahwa warna itu sendiri tidak berkontribusi pada sifat antioksidan madu. Sebaliknya, warna merupakan cerminan kandungan fenolik, mineral, dan konstituen serbuk sari. Secara kolektif penelitian ini memperjelas bahwa sifat kimia polifenol pada akhirnya bertanggung jawab atas sifat antioksidan madu.
Frankel et al. (1998) juga menyelidiki botani asli sebagai karakteristik yang berpotensi berkorelasi, dan menemukan bahwa aktivitas kimia madu secara signifikan dipengaruhi oleh sumber bunga. Dalam studi mereka, sampel madu diambil dari 14 sumber bunga yang berbeda yang bervariasi 20 kali lipat dalam kandungan antioksidan. Konsentrasi kandungan antioksidan tertinggi (diukur dalam satuan yang disebut μeq) ditemukan pada madu soba Illinois yang sangat gelap (432 x 10 -5 Î¼eq), dibandingkan dengan kandungan antioksidan terendah dalam madu kancing sage California berwarna terang (21,3 x10 -5). Î¼eq) (Frankel et al. 1998). Lebih lanjut, komposisi asam fenolat, dan akibatnya aktivitas antioksidan dari madu, dapat dikaitkan dengan spesies tanaman yang diusahakan oleh lebah madu. Sebagai contoh, asam ellagic adalah asam fenolik yang telah digunakan untuk mengidentifikasi madu heather, sedangkan hidroksisinamat bersifat spesifik untuk madu kastanye (Pyryznska & Biesaga 2009). Selain itu, Bertoncelj et al. (2007) mengidentifikasi perbedaan yang signifikan secara statistik (p <0,05) dalam aktivitas antioksidan antara jenis-jenis sampel madu. Di antara beberapa contoh madu Slovenia, madu akasia memiliki aktivitas antioksidan yang paling sedikit (44,8 mg asam galat / kg madu), diikuti oleh jeruk nipis, dan madu multifloral. Sebaliknya, nilai madu cemara (241,4 mg asam galat / kg) dan madu hutan (233,9 mg asam gallic / kg) kira-kira lima kali lebih tinggi dari nilai madu akasia (Bertoncelj et al. 2007). Beretta et al. (2005), yang juga mengukur asam galat untuk mengidentifikasi kandungan fenolik dari sampel madu, memperoleh hasil yang sama untuk akasia dan madu multifloral. Menariknya, Beretta et al. (2005) menemukan bahwa kekuatan antioksidan dari sampel madu yang berasal dari botani yang sama adalah serupa, meskipun perbedaan dalam asal geografis mereka. Misalnya, nilai mereka untuk madu soba Meksiko (482,17 ± 2,40 mg asam galat / kg) mirip dengan nilainya, seperti yang dilaporkan dalam literatur, untuk madu soba California (456 ± 55 mg asam galat / kg). Sepanjang literatur, asal botani telah dianggap sebagai faktor yang paling berpengaruh terhadap komposisi fitokimia madu.
Asal botani madu dan praktik pengolahan, pengemasan dan penyimpanannya juga memengaruhi nilai antioksidan madu (Bertoncelj et al. 2007). Blasa et al. (2006) menyelidiki keberadaan antioksidan dalam sampel madu Millefiori (multifloral) mentah dan olahan Italia . Mereka menemukan bahwa total polifenol (mg CAE / 100g madu) 3,2 kali lebih rendah dalam sampel madu multigoral yang diproses bila dibandingkan dengan sampel yang tidak diproses (Blasa et al. 2006). Praktik komersial berkualitas tinggi dan pemrosesan minimal dapat membantu melestarikan sifat antioksidan madu alami.
Artikel ini telah merangkum beberapa cara di mana komposisi fitokimia berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan madu (Al-Mamary et al. 2002). Madu yang berwarna gelap umumnya kaya akan senyawa fenolik dan memiliki potensi antioksidan yang lebih besar. Selain itu, dalam beberapa budaya, madu yang berwarna gelap dan kuat (misalnya kastanye, gandum) dianggap berkualitas premium dan dianggap memberikan manfaat kesehatan. Pada akhirnya, dampak potensial dari kandungan antioksidan madu bagi kesehatan manusia harus dieksplorasi melalui penelitian lebih lanjut.

Versi sebelumnya dari makalah ini telah disampaikan dalam kursus Biologi Lebah Madu dan Lebah yang diajarkan oleh Gard W. Otis, Universitas Guelph.

Referensi
Al-Mamary, M., Al-Meeri, A., & Al-Habori, M. (2002). Aktivitas antioksidan dan fenolat total dari berbagai jenis madu . Penelitian Nutrisi, 22, 1041-1047.
Beretta, G., Granata, P., Ferrero, M., Orioli, M., & Facino, RM (2005). Standarisasi sifat antioksidan madu dengan kombinasi uji spektrofotometri / fluorimetri dan kemometrik. Analytica Chimica Acta, 533, 185-191.
Bertoncelj, J., DoberÅ¡ek, U., Jamnik, M., & Golob, T. (2007). penilaian konten fenolik, aktivitas antioksidan dan warna madu Slovenia . Kimia Pangan, 105, 822-828.
Blasa, M., Candiracci, M., Accorsi, A., Piacentini, MP, Albertini, MC, & Piatti, E. (2006). Madu Millefiori mentah dikemas penuh dengan antioksidan. Kimia Pangan, 97, 217-222.
Frankel, S., Robinson, GE, & Berenbaum MR (1998). Kapasitas antioksidan dan karakteristik berkorelasi dari 14 madu unifloral. Jurnal Penelitian Apikultur, 37 (1), 27-31.
Meda, A., Lamien, CE, Romito, M., Millogo, J., & Nacoulma, OG (2005). Penentuan total fenolik, flavonoid dan prolin isi dalam madu Burkina Fasan, serta aktivitas pemulungan radikal mereka. Kimia Pangan, 91 (3), 571-577.
Poljsak, B., Å uput, D., & Milisav, I. (2013). Mencapai keseimbangan antara ROS dan antioksidan: Kapan harus menggunakan antioksidan sintetis. Kedokteran Oksidatif dan Umur Panjang Seluler, 2013, 1-11.
Pyrzynska, K., & Biesaga, M. (2009). Analisis asam fenolik dan flavonoid dalam madu. Tren dalam Kimia Analitik, 28 (7), 893-902.
Saxena, S., Gautam, S., & Sharma, A. (2010). Sifat fisik, biokimia dan antioksidan dari beberapa madu India. Kimia Pangan, 118, 391-397.
Share:

Apa ya... Bee Pollen?


Lebah madu adalah serangga paling populer di dunia. Koloni lebah ditemukan di seluruh dunia kecuali di Antartika, dan banyak satwa liar di dunia tidak akan ada tanpa mereka.
Lebah menyediakan beberapa makanan paling populer di dunia. Tidak ada sumber gula alami yang lebih baik dari madu . Ada beberapa antioksidan yang lebih fleksibel daripada propolis , dan tidak ada sumber asam amino, vitamin, dan mineral seimbang yang lebih baik daripada royal jelly . Tetapi ada satu produk lebah yang dapat bekerja keajaiban medis kecil yang sebagian besar dari kita tidak pernah mempertimbangkan. Ini bee pollen.

Apa itu Bee Pollen?

Kebanyakan orang bereaksi terhadap subjek bee pollen dengan komentar pada baris “Apa? Saya pikir serbuk sari dibuat oleh bunga, bukan oleh lebah. ”Dan kebanyakan orang benar.
Bee pollen bukan serbuk sari yang dibuat oleh lebah, tetapi sebaliknya, itu adalah serbuk sari yang dikumpulkan oleh lebah di kaki mereka ketika mereka berdengung di sekitar dan di dalam sumur bunga yang menyediakan nektar yang mereka kumpulkan untuk membuat madu .
Bertentangan dengan apa yang diyakini sebagian orang, itu juga bukan produk hewani, itu adalah produk nabati yang dibuat oleh tanaman selama siklus reproduksi normal. Serbuk sari hanyalah "telur" jantan yang membuahi telur betina (meskipun tidak seperti kebanyakan tanaman manusia biasanya mengandung bagian reproduksi jantan dan betina). Tidak seperti madu , royal jelly , atau propolis , bee pollen cocok untuk vegan dan vegetarian. Ini juga rendah gula sehingga dapat diterima bagi penderita diabetes dan pelaku diet dan siapa saja yang harus berurusan dengan kadar gula darah tinggi dan rendah.
Mengumpulkan serbuk sari dari sarang tidak menghilangkan tanaman atau lebah dari makanan yang mereka butuhkan. Hanya perlu satu butir serbuk sari untuk membuat benih. Karena sebagian besar tanaman menyebar sendiri jauh dan luas, mereka menghasilkan puluhan ribu atau bahkan puluhan juta butir serbuk sari untuk setiap benih di masa depan. Lebah yang sibuk mengumpulkan 20.000 hingga 50.000 butir serbuk sari setiap hari, mencampurkannya dengan sejumlah kecil madu untuk menyatukannya.
Pollen menyediakan elemen jantan yang digunakan tanaman untuk membuat benih. Ketika serbuk sari mendarat di putik bunga, itu tumbuh tabung turun melalui putik dan menghasilkan dua sperma yang melakukan perjalanan ke tabung dan memiliki potensi untuk membuahi telur. Sampai serbuk sari mencapai bunga yang akan diserbuki, ia harus mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan tidak hanya untuk menjaga agar serbuk sari tetap hidup, tetapi juga untuk melindunginya dari matahari, panas, dingin, dan infeksi. Kebutuhan untuk memasukkan nutrisi ke dalam paket sekecil itu adalah apa yang membuatnya menjadi makanan yang luar biasa.

Pollen Berasal dari Tanaman Pilih-pilih

Tanaman pilih-pilih lebah untuk penyerbukan. Tanaman entomophilous (pencinta serangga) ini menghasilkan butiran serbuk sari yang sangat kecil yang tidak dapat bertahan dalam perjalanan angin. Setiap partikel serbuk sari dari tanaman pencinta lebah harus dikemas dengan semua nutrisi yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dan hampir tidak ada yang lain, sehingga itu akan cukup kecil untuk menempel pada kaki lebah madu yang membawanya ke bunga berikutnya. Dan karena lebah memilih tanaman berdasarkan nektar mereka, lebah penyerbukan lebah selalu memiliki induk yang sangat menarik bagi lebah generasi berikutnya yang membuat spesies tetap hidup.
Pollen hampir terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang. "Butir" serbuk sari yang dapat kita lihat dalam madu dan dalam produk lebah serbuk sari sebenarnya adalah "bola" serbuk sari yang dikumpulkan lebah dalam kantung-kantung kecil di kaki mereka. Karena lebah mengumpulkan jauh lebih banyak serbuk sari daripada yang bisa dikonsumsi sarang lebah, peternak lebah telah menemukan perangkap kecil yang menangkap beberapa (tetapi tidak semua) bola-bola deposit lebah serbuk sari ketika mereka "membersihkan kaki" sebelum masuk ke dalam sarang.

Tapi Apa yang ada di Pollen for People?

Baik dan bagus, Anda mungkin berkata, tetapi mengapa saya peduli dengan lebah dan serbuk sari? Fakta sederhananya adalah bahwa, seperti segala sesuatu yang lain di sarang lebah, serbuk sari adalah harta karun nutrisi.
Dari 12 hingga 45% dari berat serbuk sari adalah protein. Protein ini mengandung semua asam amino yang dibutuhkan untuk nutrisi tanaman, yang kebetulan sesuai dengan semua asam amino yang dibutuhkan untuk nutrisi manusia.
Ahli gizi biasanya menggambarkan asam amino yang dibutuhkan tubuh manusia dalam istilah "esensial" dan "tidak esensial." Asam amino esensial adalah senyawa yang tidak dapat dibuat oleh tubuh manusia. Mereka harus datang dari makanan. Asam amino non-esensial adalah senyawa yang dapat dibuat tubuh manusia dari asam amino esensial.
Asam amino non-esensial tidak harus berasal dari makanan, tetapi tubuh hanya dapat menggunakan asam amino untuk membuat protein dalam urutan yang tepat. Jika ada kekurangan asam amino tunggal, tubuh dapat memecah jaringan otot dan sel-sel kekebalan untuk mendapatkan asam amino untuk membuat protein yang dibutuhkan segera. Kadang-kadang defisit kecil dalam nutrisi protein lengkap mengakibatkan penghancuran jaringan sehat untuk membuat protein pembawa dan hormon yang sangat dibutuhkan tubuh. Dan hanya sedikit protein lengkap dapat mencegah kerusakan jaringan.
Tidak ada yang perlu menggerogoti bee pollen seperti yang dirasakan sebagian orang untuk menggerogoti lemak sapi atau bubuk protein. Sedikit protein tambahan sudah cukup. Tetapi karena serbuk sari merupakan sumber asam amino yang selalu penting, histidin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin, triptofan, dan valin, serta asam amino yang dapat menjadi penting ketika tidak ada cukup dari asam amino lain dari mana mereka dibuat, arginin sistein, glutamin, ornithin, prolin, selenosistein, serin, taurin, dan tirosin, sejumlah kecil serbuk sari dapat membuat perbedaan besar dalam pemeliharaan otot dan imunitas.
Mengapa Anda mengambil serbuk sari ketika Anda bisa mengunyah steak atau menggandakan tahu atau menambahkan bubuk protein ke smoothie Anda? Alasan bee pollen adalah tambahan yang bagus untuk diet Anda adalah karena ia menyediakan protein yang cukup dan tidak terlalu banyak. Ketika Anda makan steak besar yang besar atau setengah lusin telur atau satu pon tahu, tubuh Anda tidak menyimpan asam amino untuk membuat otot nantinya. Dan jika Anda seorang vegan dan Anda bahkan tidak akan pernah mempertimbangkan untuk makan steak besar yang hebat atau selusin telur itu, serbuk sari adalah cara yang bagus untuk menambah asam amino Anda.
Asam amino dilepaskan ke tubuh dengan dasar “gunakan atau hilangkan”. Kelebihan asam amino apa pun harus dipecah. Dan dipecah menjadi apa? Gula! Ditambah urea, yang akan menyebabkan keasaman aliran darah jika ginjal tidak bisa membuat alkali urea dengan kalsium dari tulang Anda atau glutamat dari diet atau otot. Suplemen bee pollen dapat membantu menghentikan pengasaman urin, yang diperlukan untuk menghentikan pengasaman aliran darah yang disebabkan oleh konsumsi protein yang berlebihan.
Tetapi protein bukan satu-satunya yang ditawarkan oleh pollen.

Pollen Mengemas Vitamin Punch

Pollen juga merupakan sumber vitamin. Setiap vitamin yang dikenal manusia ditemukan dalam bee pollen, termasuk A, B1, B2, B3, B5, B6, B9, B12, C, D, E, dan K.
Pollen sangat kaya akan riboflavin (vitamin B2), niasin (vitamin B3), dan asam pantotenat (vitamin B5). Ini bukan sumber cyanocobalamin (vitamin B12) atau vitamin D yang bagus, jadi Anda tidak bisa melepaskan daging (sumber vitamin B12 yang paling melimpah dalam makanan kebanyakan orang) atau suplemen B12 (dibutuhkan oleh sebagian besar vegetarian dan vegetarian) dan beralih ke sebuah gua hanya karena Anda mulai mengambil serbuk sari. Tetapi Anda dapat menggunakan sedikit tepung sari untuk melengkapi nutrisi vitamin Anda pada hari-hari Anda mungkin lupa untuk mengambil suplemen Anda atau makan semua buah-buahan dan sayuran yang dibutuhkan tubuh Anda.

Ini Sumber Mineral yang Luar Biasa

Pollen juga merupakan sumber mineral yang bagus. Hingga sekitar 4% dari berat kering serbuk sari adalah mineral dalam bentuk koloid, dan mengandung segala sesuatu mulai dari boron hingga seng.
Namun, karena Anda hanya mengonsumsi sedikit serbuk sari dibandingkan dengan diet total Anda, Anda tidak dapat mengandalkan serbuk sari untuk kalsium dan magnesium yang Anda butuhkan. Tetapi serbuk sari adalah sumber mineral yang sangat baik yang memiliki cara untuk tidak mendapatkan diet terbaik sekalipun. Pollen adalah sumber tembaga dan seng yang sangat baik.

Ini Sumber Antioksidan Yang Bagus

Salah satu rahasia yang tak terhitung tentang antioksidan alami adalah bahwa tidak ada satu pun antioksidan yang terbaik. Ketika para ilmuwan telah mengekstrak antioksidan tunggal untuk digunakan sebagai suplemen dalam uji klinis, hasilnya biasanya tidak seperti yang diprediksi oleh pengalaman dengan makanan alami. Namun, makan makanan yang kaya antioksidan adalah jalan yang terbukti untuk kesehatan yang baik.
Makanan nabati sangat bervariasi dalam kandungan antioksidan totalnya. Pinggul mawar liar, misalnya, memiliki 1900 kali kekuatan antioksidan zucchini (walaupun itu tidak berarti Anda harus berhenti makan zucchini, terutama jika Anda memiliki keranjang gantang yang segar dari kebun musim panas Anda). Delima memiliki 275 kali kekuatan antioksidan wortel (meskipun Anda masih akan memasukkan beberapa wortel dalam diet Anda khusus untuk beta-karoten). Ceri asam memiliki 5 kali kekuatan antioksidan ceri.
Bee pollen, bagaimanapun, memiliki kekuatan antioksidan total hampir 30% lebih banyak daripada pinggul mawar liar, dan:
  • 3 kali total kekuatan antioksidan acai berry,
  • 3-1 / 2 kali total kekuatan antioksidan jus delima,
  • 30 kali total kekuatan antioksidan jeruk dan nanas,
  • 40 kali total kekuatan antioksidan lemon dan kurma,
  • 150 kali kekuatan antioksidan total dari tomat dan apel, dan
  • 2800 kali total kekuatan antioksidan zucchini yang disebutkan sebelumnya.
Tentu saja ada alasan lain untuk makan makanan lain. Tetapi jika Anda mencari kekuatan antioksidan belaka, serbuk sari tidak dapat dikalahkan. Dan jika Anda mencari antioksidan spesifik, serbuk sari juga merupakan sumber yang bagus.
Bee pollen biasanya mengandung setidaknya empat karoten, beta-karoten, lutein, lycopene, dan zeaxanthin. Biasanya mengandung setidaknya tujuh flavonoid, isorhamnetin, kaempferol, luteolin, myricetin, quercetin, rutin, dan tricetin. Dan itu juga mengandung beta-sitosterol dan stigmasterol, semua phytochemical penting untuk mendukung penyembuhan kondisi penyakit tertentu.

Tapi bukankah Pollen akan membuatku bersin?

Anda akan senang mengetahui bahwa lebah tidak mengumpulkan serbuk sari dari ragweed. Mereka tidak mengumpulkan serbuk sari dari rumput. Dan mereka tidak mengumpulkan serbuk sari jenis apa pun yang biasanya "ada di udara."
Lebah berspesialisasi dalam mengumpulkan serbuk sari dari tanaman yang menghasilkan butiran kecil serbuk sari yang tidak dapat bertahan hidup melalui angin. Jenis-jenis tanaman yang menghasilkan butiran kecil serbuk sari dapat menyebabkan masalah bagi Anda jika Anda alergi terhadapnya, tetapi Anda harus mendekatinya sebelum tanaman itu dapat membuat Anda gatal atau bersin.
Dan karena Anda tidak menggosokkan serbuk sari pada kulit Anda atau menghirupnya, tidak ada kemungkinan bahwa suplemen bee pollen atau batang serbuk sari atau smoothie dapat menyebabkan reaksi alergi. Begitu serbuk sari menyentuh perut Anda, jus lambung dan asam lambung mulai memecahnya menjadi komponen nutrisi.
Tetap saja, itu bukan ide yang buruk untuk memulai secara perlahan saat pertama kali Anda menggunakan bee pollen. Cobalah makan sedikit saja, mungkin 1/4 sendok teh. Itu sekitar satu gram. Jika tidak ada hasil yang tidak diinginkan, maka cobalah satu sendok teh (sekitar 5 gram). Kemudian, jika tidak ada masalah, gunakan serbuk sari sebanyak yang Anda mau. Tetapi jika Anda adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar alergi terhadapnya, Anda selalu dapat mengirim produk kembali untuk pengembalian uang. Tetapi Anda jauh lebih mungkin menjadi salah satu dari banyak orang yang dapat menggunakan produk ajaib ini untuk melawan alergi.

Madu, Serbuk Sari, dan Alergi

Setiap ibu terbiasa mengetahui bahwa cara terbaik untuk menghentikan hiruk-pikuk musiman anak-anak selama musim serbuk sari adalah memberi si anak sendok besar madu setiap hari selama musim dingin. Demam dan terkadang asma dapat diatasi hanya dengan penggunaan madu secara bebas.
Kemudian seorang ilmuwan memutuskan untuk menguji validitas perawatan ini yang telah bekerja selama berabad-abad. Dia merekrut keluarga-keluarga yang bersedia memberi anak-anak mereka dosis yang diatur dengan hati-hati dari madu komersial yang tegang, dipasteurisasi, setiap hari selama musim dingin untuk melihat apakah madu dapat dicegah dari reaksi alergi selama musim serbuk sari.
Anda menebaknya. Tidak.
Tetapi ternyata ilmuwan itu tidak menguji produk yang tepat. Bukan madu yang mencegah alergi. Ini serbuk sari, yang lebih banyak mengandung madu mentah yang belum disaring.
Serbuk sari dari tanaman lokal sebagai sejenis obat homeopati alami untuk alergi. Ketika Anda makan madu mentah yang dibuat oleh lebah yang memakan tanaman di dekat rumah Anda, Anda hanya mendapatkan sedikit serbuk sari yang Anda alergi terhadap setiap gigitan. Hampir tidak pernah cukup untuk menyebabkan reaksi alergi yang sebenarnya, tetapi cukup untuk "melatih" sistem kekebalan tubuh Anda bahwa serbuk sari bukanlah ancaman. Orang-orang yang makan madu mentah dan tidak terstruktur yang diproduksi secara lokal dapat membangun ketahanan terhadap alergi.
Tetapi jika Anda tinggal di Inggris dan Anda makan madu dari Turki, atau jika Anda tinggal di New York dan Anda makan madu dari Hawaii, atau jika seperti kebanyakan orang Anda tidak tahu dari mana madu Anda berasal, bahkan serbuk sari di madu alami tidak akan bekerja seperti suntikan alergi alami. Madu harus diproduksi di daerah di mana Anda memiliki alergi.
Namun, bee pollen sendiri dapat membantu mencegah alergi di mana saja. Itu karena ada cara kedua serbuk sari dapat membantu mencegah alergi. Ini kaya akan bahan kimia tanaman flavonoid yang dikenal sebagai quercetin.
Quercetin adalah bahan kimia yang digunakan tanaman untuk mengatur produksi energi. Quercetin berada di kelas bahan kimia tanaman yang sama dengan amygdalin, kadang-kadang dikenal sebagai vitamin B17, tetapi quercetin tidak beracun.
Salah satu cara quercetin bertindak dalam tubuh manusia adalah sebagai penghambat reaksi yang menyebabkan paket kecil histamin, bahan kimia yang memicu reaksi alergi. Ketika kita mengonsumsi lebih banyak kuersetin, histamin cenderung tetap berada di kompartemen penyimpanannya di sel-sel yang melapisi hidung dan tenggorokan. Keuntungan besar quercetin sebagai antihistamin alami adalah tidak menyebabkan kantuk atau kehilangan koordinasi dan tidak membentuk kebiasaan. Bahkan jika Anda tidak menggunakan serbuk sari selama musim bebas serbuk sari di daerah Anda, mengonsumsi bee pollen sekarang akan membantu dengan hidung beringus, mata gatal, terisak, dan bersin.
Ada sangat sedikit orang yang tidak boleh menggunakan serbuk sari untuk tujuan ini, dan itu sebagian besar disebabkan oleh reaksi potensial dengan obat-obatan. Jika Anda minum obat yang menurut dokter harus Anda hindari dari makanan dengan quercetin tinggi seperti apel, bawang merah, dan jeruk bali, maka sebaiknya Anda juga tidak menggunakan serbuk sari. Namun, bagi kebanyakan orang, bee pollen dan quercetin yang dikandungnya sama sekali tidak beracun dalam dosis apa pun.
Dan jika Anda khawatir tentang alergi terhadap serbuk sari dalam madu itu sendiri, solusinya adalah membeli merek madu yang dikumpulkan dari tanaman yang tidak tumbuh di lingkungan Anda sendiri, seperti semak manuka Selandia Baru, yang tumbuh paling baik di sisi barat Pulau Selatan di mana hampir tidak ada yang tinggal. Merek-merek berkualitas lain dari bee pollen mengambil tindakan pencegahan pencampuran serbuk sari yang dikumpulkan dari berbagai lokasi hanya untuk memastikan bahwa tidak ada satu jenis serbuk sari yang mendominasi dalam campuran dan dapat menyebabkan reaksi alergi.

Pollen untuk Pertumbuhan Otot

Aplikasi lain yang populer dari serbuk sari adalah binaraga. Lusinan merek bar olahraga mengandung sedikit tepung sari untuk mendorong pemulihan dan pertumbuhan otot.
Apa yang mungkin bisa dilakukan oleh serbuk sari dengan membangun otot? Ternyata para ilmuwan berpikir bahwa serbuk sari memiliki efek berbeda pada kentang sofa dan penggemar kebugaran.
Mari kita mulai dengan penggunaan serbuk sari untuk kembali ke bentuk semula. Beberapa penelitian yang paling ilustratif melibatkan penggunaan serbuk sari pada hamster yang terikat di rumah. Studi laboratorium telah menemukan bahwa pemberian quercetin tambahan (antioksidan utama yang ditemukan dalam serbuk sari) untuk hewan laboratorium yang tidak banyak bergerak:
  • Meningkatkan daya tahan otot sebesar 35 hingga 40%,
  • Mengaktifkan gen yang disebut PPAR-gamma, yang membantu insulin memindahkan gula ke otot yang membutuhkannya
  • Secara dramatis meningkatkan kecepatan mitokondria (pusat penghasil energi setiap sel) membakar gula dan lemak.
Sebagian besar dari kita, tentu saja, tidak membeli suplemen untuk mendorong hamster keluarga untuk menjadi bugar. Sebagian besar dari kita membeli suplemen yang membantu latihan kita sendiri. Perusahaan Coca-Cola mengadakan kontrak dengan University of Georgia untuk melakukan studi tentang bagaimana minuman olahraga yang mengandung quercetin dengan vitamin B3, B6, dan B12 dibandingkan dengan minuman olahraga yang hanya mengandung vitamin B. (Vitamin B12, harus ditunjukkan, tidak berlimpah dalam serbuk sari. Percobaan ini akan analog dengan mengambil baik lebah serbuk sari dan vitamin B12.)
Para peneliti merekrut pria berusia 20-an untuk melakukan latihan dasar dan kemudian minum minuman yang diperkaya quercetin atau minuman yang tidak mengandung quercetin selama 7 hari. Kemudian orang-orang itu kembali untuk latihan lagi. Para ilmuwan menemukan bahwa pria yang minum minuman yang diperkaya quercetin memiliki:
  • Volume darah yang lebih besar dipompa oleh jantung,
  • Kapasitas aerobik yang lebih besar,
  • Konsumsi oksigen lebih tinggi, dan
  • Waktu pemulihan lebih cepat
.. Dari pada pria yang tidak. Karena hanya ada 15 laki-laki dalam penelitian ini (para ilmuwan tidak memasukkan perempuan dalam penelitian ini karena mereka khawatir bahwa perubahan hormon akan mengubah kinerja atletik dengan cara yang tidak dapat diprediksi) hasil penelitian ini tidak signifikan secara statistik, tetapi penelitian ini sangat menyarankan bahwa produk seperti bee pollen dapat meningkatkan kinerja atletik. Lusinan produk untuk atlet menambahkan serbuk sari untuk meningkatkan daya pernapasan dan meningkatkan daya tahan. Tetapi manfaat serbuk sari tidak terbatas pada menghentikan alergi dan membangun kekuatan atletik.

Pollen untuk Hot Flashes

Hot flashes adalah salah satu komplikasi menopause yang paling umum. Jika ada satu gejala menopause yang paling mungkin menyebabkan wanita memutuskan, “Aku tidak tahan lagi!” Dan memulai terapi penggantian estrogen, itu adalah hot flashes. Bee pollen, bagaimanapun, menawarkan wanita pengobatan alternatif.

https://secretsofthebees.com/health-benefits/bee-pollen/
Share:

Para Pemburu dan Penghasil Madu (Bagian 1)

Larva-larva lebah, mengambang di baskom besar. Bercampur bersama potongan sayuran, dan sagu yang bulat. Diaduk sebentar  meratakan bumbu. Asap mengepul. Ini kapurung–penganan khas  Luwu, siap dinikmati.
Kapurung dengan lauk utama telur lebah, tak boleh dibiarkan dingin. Berbeda dengan kapurung ayam, atau ikan. Kapurung lebah dingin  membuat lemak naik,  menutupi permukaan. Langit-langit mulut, bibir dan lidah akan penuh lemak.
Tak hanya kapurung, telur-telur lebah  biasa juga jadi pepes. Dibungkus dengan daun pisang lalu dipanggang. Bagi sebagian besar orang Luwu, kapurung dan pepes lebah adalah santapan yang ditunggu-tunggu. Saat ini, mencari lebah hutan sangat sulit, harus memasuki hutan, menapak gunung-gunung tinggi, bahkan menjajal tepi jurang.
Biang kerok
Dulu, saya beberapa kali mengikuti perburuan lebah. Biasa malam hari. Seorang pawang lebah akan ritual kecil. Memegang batang pohon tempat lebah bersarang, dan mengusap-usap. Kadang badan dilumuri minyak tanah.
Pawang lebah itu memanjat pohon. Membawa obor besar dari gulungan daun kelapa kering, kain atau karung goni. Saat mulai dekat  sarang, pawang akan menyalakan obor. Membakar sarang lebah.
Kelompok lain yang menunggu di bawah pohon biasa ikut menyalakan api, membuat asap pekat agar lebah cepat terbang. Tak butuh waktu lama, dengan api yang membara dari obor, lebah mudah terpanggang dan menghilang. Atau sebagian melarikan diri.
Sarang lebah yang berwarna kecoklatan menjadi kehitaman. Pawang menyanyat rumah lebah dengan parang tajam. Memilah-milah menjadi beberapa potongan lalu dimasukkan ke ember.
Di bawah pohon kru lain, membawa menjauh. Bunyi dengung lebah dengan sayap terpanggang begitu memilukan. Mengelinjang dan berusaha terbang. Sarang-sarang lebah  diteliti. Kamar tempat madu  diperas dengan tangan. Tempat kotoran ( persediaan makanan dari tepung sari tanaman) dibuang. Telur (larva) disisihkan jadi makanan.
Siang hari, ratusan bahkan ribuan lebah tergeletak. Hangus.
Ramah lebah
Berbeda dengan perburuan madu di hutan pendidikan Universitas Hasanuddin, Desa Bengo-bengo, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros. Peneliti Lebah Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Mappatoba Sila,  bersama beberapa rekan mengembangkan penangkaran lebah Apis trigona dengan ramah.
Saya mengunjungi penangkaran itu pekan lalu. Rumah-rumah buatan dari kotak-kotak kayu dijejer  17 buah. Pada bagian atas diberi topi petani,  untuk melindungi dari sengatan matahari langsung.
Ketika atas kotak dibuka, beberapa lebah trigona  berukuran kecil seperti semut merah, beterbangan. Hinggap di rambut dan lengket di kulit.
“Trigona suka dengan warna hitam dan takut air,” kata Stanislaus Ghaji, peneliti dan instruktur penangkar lebah trigona, Universitas Hasanuddin Makassar. Sebelum membuka kotak , katanya,  mesti membasuh topi dan beberapa bagian tubuh dengan air.
Dia membuka beberapa kotak dan mencari struktur sarang yang masih terbangun. “Coba lihat. Yang berpendar-pendar seperti air dan berkilau itu bakal madu. Yang kuning telur dan bagian kuning lain simpanan makanan. Mereka membangun dan membuat bilik dengan teratur.”
Memegang sarang lebah trigona seperti lem yang mulai padat. Kenyal. Berwarna coklat muda. Menurut Stanislaus, bahan lengket itulah yang dikenal dengan propolis. Bahan ini dikumpulkan dari getah bunga, buah atau pohon. Lebah membawa dengan menempelkan di kaki dan memintal secara cermat.
Dimana tempat tempat kotoran lebah? Stanislaus membuka kotak lain dan menemukan sarang yang ditinggalkan. Warna mulai coklat kehitaman. “Ini adalah simpanan makanan. Simpanan makanan ini terbuat dari tumpukan tepung sari yang menempel di lebah,” katanya.
Padahal, lebah tak pernah membuang kotoran dalam sarang. “Ini mahluk yang benar-benar bersih.”
Trigona adalah jenis lebah madu yang dikenal luas namun peternak  kurang tertarik, karena produksi kecil. Padahal, khasiat buat bahan medis sangat baik.
Trigona menghasilkan dua produk unggul, yakni prupolis, sebagai  bahan anti oksidan dan antibiotik. Bipret (tepung sari atau beebread) untuk simpanan makanan–bahan formulasi produk medis, sebagai ramuan kecantikan dan campuran makanan-minuman.
Untuk itu, melalui teknik penangkaran ramah, madu lebah tak semua diambil. “Di Vietnam, mereka sudah melakukan, bahkan memberikan pemahaman pada pemburu lokal menyisakan madu. Aturannya, hanya boleh 2/3 madu. Jadi lebah dengan sisa makanan masih bertahan lama. Bahkan setiap mengambil madu, lebah tak boleh mati,” kata Mappatoba.
Di Sulawesi Selatan, penangkaran lebah trigona sudah sejak pertengahan 2000-an di Masamba, Luwu Utara. Beberapa peternak lebah trigona, menjaga sumber pakan dan melestarikan, seperti pinang, tanaman palem, kelapa, puspa, rambutan, mangga dan hampir semua tumbuhan berbunga.
“Saat ini kita baru mampu menernak trigona untuk lebah lokal. Lebah lain teknologi dan kesiapan sumber daya belum memadai. Kalau di Jawa puluhan tahun lalu ada lebah Apis millevera sudah diternak. Ini lebah impor dari New Zealand.”
Persiapan paceklik
Saat musim bunga (di luar penghujan) yang berlangsung selama dua sampai tiga bulan, lebah memproduksi madu sebanyak-banyaknya. Madu ini, diperoleh dari proses panjang, melalui nektar bunga.
Mappatoba, menguraikan proses menghasilkan madu. Pada musim bunga, bersamaan muncul matahari lebah pemandu yang berjumlah ratusan keluar sarang. Lebah ini survei lapangan, mengitari ratusan kilometer mencari letak bunga melimpah. Ketika lebah pemandu menemukan titik bunga yang tepat, mereka kembali ke sarang.
Lebah pemandu, berkerumun di depan sarang mengikuti azimut matahari. Melakukan tarian lebah (dancing bee) dan mendengung keras. Lebah pekerja lapangan yang berjumlah ribuan ekor memperhatikan. “Dari tarian inilah, lebah pekerja lapangan akan tahu, apakah sumber pakan bunga jauh atau dekat.”
Lebah pekerja lapangan menuju titik pakan bunga. Mereka hinggap, mencelupkan badan ke tepung sari dan menjorokkan kepala menuju putik sari untuk mengisap nektar.
Saat menghisap nektar, lebah membuka mulut dan menjulurkan alat hisap probosis – seperti belalai gajah namun ukuran kecil. Nektar dibawa menuju kantong madu (honey sack) di bawah bagian dada. Ketika kantong penuh, lebah menuju sarang.
Di sarang, lebah pekerja lapangan membuka belalai dan lebah pekerja rumah tangga menghisap. Nektar ini dipindahkan dari satu sel ke sel lain, untuk mengurangi kadar air dari nektar.
Setelah kadar air nektar berkurang dan dianggap pas, lebah akan menutup dengan lapisan lilin. “Proses itu membutuhkan waktu tiga minggu. Inilah yang dikenal dengan madu matang.”
Nektar adalah cairan manis dari bunga. Pada waktu tertentu, bila tak ada serangga, nektar akan menguap. Pada sore hari muncul kembali. Kandungan nektar setiap bunga hanya beberapa tetes.
Lebah menghasilkan madu sebagai persiapan makanan saat paceklik. Madu ini menjadi bahan makanan pokok untuk ratu lebah agar terus hidup dan bertelur untuk menjada keberlangsungan koloni . “Jika pemburu lebah mengambil madu dengan membakar, lebah dan larva akan mati. Bisa dipastikan satu koloni   punah,” kata Mappatoba.


Dalam setiap koloni, lebah antara 2.000 hingga 3.000 dengan satu ratu, ratusan raja (pejantan), ribuan pekerja lapangan, ribuan pekerja rumah tangga, dan penjaga sarang. (Bersambung)

Share:

Batu Bata Press mantan Pendamping Transmigrasi

Share:

TV Desa Kutaraja

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Banda Aceh, Aceh, Indonesia
Saya Bobby seorang Penggerak Swadaya Masyarakat pada Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh WA. 085370508081

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.